Ekonom senior sekaligus mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, memberikan catatan kritis terkait melesatnya harga saham perdana PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. Melalui pernyataan publiknya, ia menilai bahwa dari kacamata ekonomi-politik, kondisi fundamental perusahaan hiburan tersebut tergolong rapuh.

Kritik Andrinof menyentuh isu krusial mengenai apa yang disebut sebagai *political premium*. Dalam teori ekonomi-politik, valuasi sebuah perusahaan di pasar modal tidak jarang dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap kedekatan entitas bisnis dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh politik. Keberadaan koneksi politik ini sering kali memicu ekspektasi pasar akan kemudahan akses maupun perlindungan kebijakan, meski hal tersebut belum tentu berkorelasi langsung dengan performa keuangan perusahaan.

Jika merujuk pada analisis fundamental konvensional, kinerja keuangan PT RANS memang sedang berada dalam tekanan. Data prospektus menunjukkan adanya penurunan pendapatan dari Rp410,5 miliar menjadi Rp353,4 miliar pada tahun 2025. Di saat yang sama, laba bersih perusahaan turut terkoreksi signifikan hingga 41,6 persen, yakni menyentuh angka Rp56,7 miliar. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa terdapat kesenjangan antara valuasi pasar dengan kesehatan kinerja operasional perusahaan.

Selain faktor fundamental, ketergantungan besar pada figur pendiri menciptakan risiko yang dikenal dengan istilah *key person risk*. Model bisnis yang bertumpu pada popularitas individu memiliki kerentanan tinggi jika sewaktu-waktu terjadi pergeseran reputasi atau pengaruh sosok tersebut. Di sisi lain, fenomena euforia investor dan efek selebritas (celebrity effect) sering kali mendominasi pergerakan saham perdana, yang kerap mengabaikan nilai intrinsik perusahaan demi mengikuti sentimen pasar.

Hingga saat ini, perdebatan mengenai apakah valuasi PT RANS didorong oleh kekuatan bisnis yang berkelanjutan atau sekadar dampak dari euforia pasar masih terus bergulir. Analisis lebih mendalam terhadap laporan keuangan serta prospek usaha ke depan diperlukan untuk memastikan apakah nilai saham tersebut mencerminkan realitas ekonomi yang sesungguhnya.