Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan lima bendungan baru, termasuk Bendungan Meninting di Lombok Barat, sebagai pilar strategis dalam upaya pemerintah mencapai kemandirian pangan nasional. Keberadaan infrastruktur irigasi ini diharapkan menjadi penggerak utama dalam mendistribusikan air secara merata hingga ke tingkat lahan petani, yang selama ini menjadi kendala dalam optimalisasi hasil panen.

Dalam arahannya, Presiden menekankan bahwa ketersediaan air yang stabil harus diikuti dengan dukungan hulu, seperti efisiensi harga pupuk. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan gairah petani dalam mengelola usaha tani secara lebih produktif dan berkelanjutan. Presiden menegaskan bahwa keberlangsungan pangan adalah fondasi utama sebuah negara.

Sebagai langkah komplementer, Kementerian Pertanian memperkenalkan sistem 'Pertanian Modern Advanced Agricultural System' (PM-AAS). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa sistem ini menggabungkan penggunaan benih unggul dengan mekanisasi presisi untuk meningkatkan efisiensi lahan. Implementasi teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas lahan hingga lima ton per hektare.

Dampak konkret dari sinergi bendungan dan teknologi ini sudah terlihat pada proyeksi Indeks Pertanaman (IP) di Nusa Tenggara Barat. Dengan beroperasinya Bendungan Meninting, frekuensi panen di wilayah tersebut diprediksi meningkat signifikan dari 280 persen menjadi 300 persen dalam setahun.

Pemerintah menargetkan tambahan produksi beras nasional mencapai satu juta ton per tahun melalui pemanfaatan infrastruktur baru ini. Lebih jauh, Menteri Pertanian optimistis bahwa peningkatan skala produktivitas ini tidak hanya memperkuat cadangan pangan dalam negeri, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekspor pangan global di masa depan.