Tantangan bencana alam seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta aktivitas seismik di Indonesia menuntut sistem mitigasi yang lebih responsif. Penggunaan teknologi deteksi dini berbasis data dinilai menjadi solusi krusial untuk mencegah dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang lebih luas.
Merespons kebutuhan tersebut, Adhi Industri Group menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan institusi terkait. Langkah ini bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur teknologi kebencanaan yang terintegrasi di tanah air demi mempercepat langkah penyelamatan.
CEO Adhi Industri Group, Mufti Mubarok, menjelaskan bahwa pemanfaatan data satelit yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI), analisis data, dan sensor real-time dapat mendeteksi indikasi awal karhutla secara cepat. Teknologi ini memungkinkan pemantauan area geografis yang luas serta identifikasi titik panas secara berkala.
Menurut Mufti, sistem ini tidak hanya mengandalkan satu sumber data. Informasi dari satelit akan diperkaya dengan parameter lain seperti kelembapan udara, kondisi vegetasi, arah angin, data cuaca, hingga riwayat kebakaran di wilayah terdampak. Integrasi ini akan divisualisasikan melalui dasbor analisis risiko guna mempermudah penentuan skala prioritas penanganan.
Ekosistem teknologi yang diusulkan mencakup integrasi Internet of Things (IoT), Sistem Informasi Geografis (GIS), komputasi awan, dan pusat kendali (command center). Melalui sistem ini, notifikasi otomatis akan segera dikirimkan kepada otoritas berwenang jika ditemukan indikasi bahaya yang memerlukan verifikasi lapangan.
Selain karhutla, teknologi analitik ini juga dirancang untuk mendukung sistem pemantauan gempa bumi melalui optimalisasi jaringan sensor seismik dan analisis spasial. Mufti menegaskan bahwa peran teknologi ini adalah untuk mempercepat pengolahan dan distribusi informasi, bukan menggantikan fungsi lembaga resmi negara.
Pembangunan ekosistem teknologi kebencanaan ini diharapkan dapat memperkuat ketangguhan nasional dalam menghadapi bencana. Kolaborasi multisektoral antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta menjadi kunci agar implementasi teknologi ini selaras dengan karakteristik wilayah Indonesia.