Upaya menjaga berat badan melalui pembatasan porsi nasi seringkali tidak dibarengi dengan kebiasaan minum yang sehat. Banyak individu masih rutin mengonsumsi minuman manis kekinian, seperti kopi susu gula aren, milk tea, maupun matcha latte, tanpa menyadari dampak buruk yang ditimbulkan bagi kesehatan metabolisme tubuh.
Spesialis Gizi Klinik, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, menyoroti fenomena kalori cair atau liquid calories yang dianggap lebih berbahaya dibandingkan makanan padat. Berbeda dengan nasi, minuman manis cenderung tidak mampu mengirimkan sinyal kenyang yang optimal ke otak, sehingga memicu seseorang untuk mengonsumsi kalori secara berlebihan tanpa terasa.
Ketika seseorang mengonsumsi makanan padat, lambung akan mengalami peregangan yang memberikan respons kenyang lebih cepat. Proses pencernaan yang memakan waktu pun membuat pelepasan energi menjadi lebih stabil. Sebaliknya, minuman tinggi gula sangat cepat melewati sistem pencernaan, menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis setiap hari menjadi ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang. Dokter Christopher menekankan bahwa akumulasi gula yang tinggi berisiko besar memicu obesitas serta diabetes melitus, bahkan pada usia yang masih relatif muda.
Sebagai langkah preventif, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih asupan harian dengan membatasi tambahan gula pada minuman. Prioritas mengonsumsi air putih menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas kalori serta memelihara kesehatan metabolik agar terhindar dari risiko penyakit kronis di masa depan.