Universitas Batam (UNIBA) terus berkomitmen meningkatkan standar kualitas riset medis di Indonesia. Sebagai langkah nyata, institusi pendidikan tinggi ini menyelenggarakan pelatihan nasional mengenai dasar etika penelitian serta pengenalan Sistem Informasi Manajemen Etik Penelitian Kesehatan (SIM EPK). Agenda yang berlangsung secara daring pada 10-11 Juli 2026 ini diikuti oleh ratusan akademisi, peneliti, dan tenaga kesehatan dari berbagai wilayah.

Acara ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan RI, Palang Merah Indonesia (PMI), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIBA, serta Tim Edutech DIY. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk membekali para peneliti dengan pemahaman mendalam tentang prinsip moral riset sekaligus mengoptimalkan penggunaan SIM EPK demi tata kelola penelitian yang lebih transparan dan akuntabel.

Ketua Ethical Clearance UNIBA, dr. Elvita Nora Susana, Sp.THT-BKL, FICS, menegaskan bahwa integritas moral adalah fondasi mutlak dalam dunia riset kesehatan. Menurutnya, sebuah penelitian tidak hanya dituntut menghasilkan data ilmiah yang valid, tetapi juga wajib menjaga hak, keselamatan, dan martabat setiap subjek yang terlibat. Melalui implementasi SIM EPK, proses birokrasi dan telaah etik kini dapat berjalan lebih cepat tanpa mereduksi aspek ketelitian penilaian.

Selama lokakarya dua hari tersebut, peserta dibekali materi komprehensif yang mencakup peran Komisi Etik Penelitian Kesehatan Nasional (KEPKN), metode penyusunan protokol uji klinis pada manusia maupun hewan uji, formulasi informed consent, hingga mekanisme evaluasi protokol melalui jalur exempted, expedited, dan full board. Selain itu, sesi simulasi penggunaan platform digital SIM EPK juga dihadirkan untuk memudahkan proses administrasi riset.

Guna memberikan perspektif yang kredibel, sejumlah pakar etika kesehatan nasional turut dihadirkan sebagai pembicara, termasuk Prof. drg. Anton Rahardjo, Drs. Ondri Dwi Sampurno, Prof. Irma Nurbaeti, Drs. Harry Wahyu Tristantowibowo, dan Handoko Riwidikdo. Kegiatan ini diharapkan dapat menginisiasi budaya riset yang bertanggung jawab dan melahirkan inovasi kesehatan yang berdampak sosial secara luas.