Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) terus memperketat pengawasan kualitas layanan kesehatan bagi ibu dan anak. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respons (AMP-SR) Kasus Maternal yang digelar di Tuban pada Selasa (4/8/2026). Upaya preventif ini dirancang guna mengevaluasi setiap kasus kematian maternal dan perinatal agar insiden serupa dapat dicegah secara efektif di masa depan.

Pertemuan krusial ini menghadirkan dua pakar obstetri dan ginekologi terkemuka, yaitu Dr. dr. R. Slamet S., Sp.OG., Subsp. Obginsos., S.H., M.H., CMC., FISQua, serta dr. Andi Sugiharto, Sp.OG. Selain narasumber ahli, agenda ini juga melibatkan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan layanan kesehatan setempat. Peserta yang hadir meliputi dokter spesialis kandungan dan kepala ruang bersalin dari enam rumah sakit se-Kabupaten Tuban, bidan penanggung jawab Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dari lima puskesmas, serta jajaran pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Tuban.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Tuban, drg. Roikan, M.H., menegaskan pentingnya audit berkala ini sebagai instrumen evaluasi komprehensif. Menurutnya, penelusuran rekam medis dari setiap kasus kematian maternal maupun perinatal sangat krusial dalam melahirkan rekomendasi medis yang tepat sasaran. Roikan merinci tiga pilar utama pelaksanaan AMP-SR, yaitu pencatatan kasus berbasis aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), analisis mendalam faktor risiko medis maupun nonmedis, serta tindak lanjut konkret berupa kebijakan korektif.

Berdasarkan data MPDN, tren kematian ibu di Kabupaten Tuban menunjukkan perkembangan yang cukup positif menuju penurunan kasus. Pada tahun 2025, tercatat ada 17 kasus kematian ibu yang didominasi oleh faktor nonobstetri sebesar 69 persen, disusul perdarahan sebesar 25 persen, dan hipertensi sebesar 6 persen. Sementara itu, hingga Juli 2026, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 6 kasus, dengan mayoritas penyebab berupa komplikasi nonobstetri (83 persen) dan Hipertensi Dalam Kehamilan (17 persen). Tren penurunan ini diharapkan terus berlanjut seiring peningkatan respons klinis di seluruh fasilitas kesehatan daerah.