Peta jalan transformasi digital di sektor korporasi Indonesia kini memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian mendalam. Teknologi yang semula hanya difungsikan sebagai robot penjawab pesan (chatbot) otomatis, kini berevolusi menjadi sistem cerdas terintegrasi yang mampu mendorong pertumbuhan pendapatan riil perusahaan.

Perkembangan tren Agentic AI ini dikonfirmasi oleh Co-Founder sekaligus Chief Technology Officer (CTO) Covena AI, Jason Tjahjono. Ia memaparkan bahwa pelaku usaha saat ini menuntut fungsionalitas AI yang jauh melampaui sekadar pelayanan pelanggan standar guna memenuhi ekspektasi konsumen yang terus meningkat secara signifikan.

Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, infrastruktur AI masa kini dirancang dengan kemampuan mengingat riwayat interaksi konsumen melalui AI-native CRM, analisis bisnis, hingga sinkronisasi dengan berbagai platform eksternal. Sistem ini terintegrasi mulai dari layanan navigasi dan penjadwalan seperti Google, jasa pengiriman instan seperti Gojek dan Grab, hingga gerbang pembayaran digital seperti Xendit dan Stripe.

Implementasi nyata dari pergeseran fungsi AI ini telah dirasakan oleh sejumlah korporasi besar. Garuda Indonesia, misalnya, sukses mencatatkan pendapatan sekitar Rp1,675 miliar setelah mengintegrasikan layanan pemesanan tiket, program GarudaMiles, pengembalian dana (refund), hingga proses check-in mandiri via WhatsApp yang dikelola oleh kecerdasan buatan. Sistem tersebut berhasil menangani lebih dari 71 ribu interaksi per bulan dengan tingkat kepuasan pelanggan mencapai skala 4,34 dari 5.

Keberhasilan serupa juga dialami oleh platform edukasi CoLearn yang mencatat efisiensi biaya akuisisi pelanggan hingga 25 persen setelah memanfaatkan AI untuk mengelola lebih dari 150 ribu percakapan dengan akurasi 97 persen. Sementara itu, lembaga konsultasi pendidikan AECC Indonesia berhasil menjaring lebih dari 500 siswa baru dalam kurun waktu tiga bulan dengan mengoptimalkan komunikasi digital ke puluhan ribu calon mahasiswa.

Kendati menawarkan efisiensi tinggi, tantangan terbesar industri teknologi saat ini adalah memastikan sistem kecerdasan buatan dapat beradaptasi secara dinamis dengan alur kerja masing-masing perusahaan. Ke depannya, kolaborasi harmonis antara kecerdasan buatan dan tenaga kerja manusia tetap menjadi kunci utama untuk menjaga konsistensi kualitas layanan bisnis.