PT Asiana Technologies memperkenalkan inovasi pengelolaan sampah ramah lingkungan melalui teknologi waste-to-fuel dalam pameran Indo Waste & Recycling 2026 di Jakarta. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengonversi sampah perkotaan dengan kadar air tinggi menjadi bahan bakar padat alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF). Langkah ini diharapkan dapat menekan penumpukan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan sektor industri pada bahan bakar fosil.

CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, menjelaskan bahwa RDF yang dihasilkan memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, mencapai lebih dari 3.500 kilokalori per kilogram. Dengan nilai kalor tersebut, bahan bakar hasil daur ulang ini sangat layak digunakan sebagai energi pendamping batu bara (co-firing) di berbagai fasilitas manufaktur tanpa perlu mengubah total sistem pembakaran yang sudah ada.

Tantangan utama pengelolaan sampah di Indonesia adalah karakteristiknya yang bercampur dan memiliki kadar air tinggi. Menjawab persoalan ini, metode yang ditawarkan Asiana fokus pada proses pengeringan dan reduksi air terlebih dahulu. Setelah material sampah memenuhi spesifikasi standar industri, barulah limbah tersebut diproses menjadi bahan bakar siap pakai untuk menyuplai pabrik semen maupun pembangkit listrik.

Selain teknologi konversi energi, perusahaan ini juga meluncurkan smart container berkapasitas hingga 20 ton sampah terkompresi. Wadah tertutup ini dilengkapi dengan sistem pemisah air lindi serta sensor berbasis kecerdasan buatan (AI) yang otomatis memberi tahu operator ketika wadah telah penuh. Sistem ini bertujuan mengoptimalkan logistik pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Asiana mengadopsi teknologi dasar dari Eropa, namun menargetkan proses manufaktur lokal dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui 75 persen. Saat ini, teknologi waste-to-fuel tersebut diklaim telah beroperasi di kawasan Rorotan, Jakarta, dengan kapasitas olah mencapai 2.500 ton sampah per hari guna memasok kebutuhan energi alternatif bagi industri semen nasional seperti Solusi Bangun Indonesia.

Menariknya, skema kerja sama yang ditawarkan tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun biaya jasa pengolahan sampah (tipping fee). Asiana Technologies sepenuhnya mengandalkan investasi mandiri dan pendapatan dari penjualan produk RDF kepada pihak industri. Skema bisnis ini kini tengah dijajaki untuk diterapkan di sejumlah wilayah lain seperti Bekasi, Padang, Palembang, dan Ogan Komering Ulu.