Bagi Generasi Z (Gen Z), menghadiri konser musik kini bukan lagi sekadar ajang berkumpul atau melihat musisi idola dari dekat. Pertunjukan musik langsung telah bertransformasi menjadi ruang katarsis untuk melepaskan penat dan melarikan diri sejenak dari tekanan rutinitas sehari-hari.
Berdasarkan laporan survei Jakpat bertajuk "Music Concert Trends & Fan Behaviors 2026", mencari hiburan menjadi motivasi terbesar bagi Gen Z dalam menghadiri konser, dengan persentase mencapai 54 persen. Dorongan ini disusul erat oleh keinginan untuk meredakan stres, yang dipilih oleh 47 persen responden.
Survei tersebut dilakukan pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026 dengan menjaring aspirasi dari 1.865 responden di wilayah Jawa dan Bali. Penelitian ini memanfaatkan aplikasi seluler Jakpat dengan proporsi sampel yang disesuaikan dengan populasi pengguna internet di Indonesia, serta memiliki margin of error di bawah 5 persen.
Selain aspek emosional seperti mencari kesenangan dan ketenangan, faktor pengalaman visual dan interaksi langsung juga memegang peranan penting. Sebanyak 45 persen responden Gen Z mengaku ingin melihat musisi favorit mereka secara langsung, sementara 43 persen lainnya mendambakan atmosfer dan keseruan pertunjukan langsung yang tidak dapat digantikan oleh platform digital.
Menariknya, alasan-alasan yang bersifat sosial atau sekadar mengikuti arus justru berada di posisi bawah. Hanya 22 persen responden yang datang karena ajakan orang lain, dan hanya 7 persen yang mengaku menonton konser demi mengikuti tren terkini. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan Gen Z untuk membeli tiket konser didasari oleh kebutuhan personal yang cukup mendalam.
Dominasi Gen Z di kancah musik langsung juga terlihat dari pangsa pasar penonton sepanjang tahun 2026. Kelompok usia ini menyumbang 29 persen dari total penonton konser, mengungguli generasi Milenial yang berada di angka 24 persen. Data ini mempertegas bahwa industri pertunjukan musik kini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan Gen Z akan pengalaman nyata yang terapeutik.