Temuan fosil manusia kerdil atau Homo floresiensis di Pulau Flores pada awal tahun 2000-an sempat memicu narasi heroik di kalangan antropolog. Kala itu, mereka dianggap sebagai makhluk cerdas yang mampu melakukan perburuan kolektif terhadap gajah kerdil, Stegodon florensis insularis. Gambaran ini semakin diperkuat dengan ditemukannya tulang-belulang gajah tersebut di lokasi yang berdekatan dengan sisa kerangka manusia purba ini.

Namun, sebuah studi komprehensif yang dipimpin oleh Elizabeth Veatch dari University of Tübingen, Jerman, kini mengubah pemahaman tersebut. Melalui observasi perilaku Komodo terhadap bangkai kambing, tim peneliti menemukan karakteristik bekas gigitan yang khas. Hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan fragmen tulang Stegodon yang ditemukan di situs Liang Bua.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kerusakan pada tulang Stegodon lebih selaras dengan sisa-sisa mangsa yang ditinggalkan oleh Komodo. Diduga kuat, Homo floresiensis tidak berburu gajah tersebut, melainkan hanya memanfaatkan sisa daging yang belum habis dimangsa oleh predator puncak di Pulau Flores itu.

Selain itu, bukti penggunaan api oleh manusia 'hobbit' juga diragukan. Dari ribuan fragmen tulang yang ditemukan di Liang Bua, hanya satu yang menunjukkan tanda-tanda pembakaran. Peneliti meyakini jejak tersebut berasal dari aktivitas Homo sapiens yang mendiami kawasan tersebut jauh setelah kepunahan spesies Homo floresiensis, sehingga klaim bahwa mereka memasak makanannya pun perlu ditinjau kembali.