PT Asiana Technologies memperkenalkan solusi inovatif pengelolaan sampah menjadi energi baru terbarukan berupa Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini dirancang khusus untuk mengonversi sampah perkotaan, industri, maupun organik menjadi bahan bakar alternatif berbentuk padat (solid fuel) yang bernilai ekonomi.
CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, menjelaskan bahwa RDF yang dihasilkan memiliki nilai kalori melebihi 3.500 kilokalori per kilogram. Karakteristik sampah di Indonesia yang cenderung basah dan bercampur menjadi tantangan tersendiri, sehingga proses pengolahan awal sangat krusial sebelum sampah tersebut siap digunakan sebagai bahan bakar pendamping batu bara (co-firing) di berbagai industri.
Pemanfaatan bahan bakar alternatif ini tidak menuntut penggantian batu bara secara total secara langsung. Menurut Poltak, sektor industri dapat mengadopsinya secara bertahap, menyesuaikan dengan kapasitas teknologi dan kebutuhan energi masing-masing fasilitas pabrik atau pembangkit listrik.
Selain sistem konversi energi, perusahaan ini juga meluncurkan wadah penampung pintar atau smart container guna mengoptimalkan logistik pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS). Unit penampung ini memiliki kapasitas tampung hingga 20 ton sampah setelah melalui mekanisme pemadatan otomatis.
Proses kompresi di dalam wadah pintar ini tidak hanya mereduksi volume sampah secara signifikan, tetapi juga memisahkan air lindi agar dapat diolah lebih lanjut dan tidak mencemari lingkungan. Sistem ini juga terintegrasi dengan sensor kecerdasan buatan (AI) yang akan langsung mengirimkan notifikasi kepada operator ketika volume kontainer telah terisi penuh untuk segera dilakukan penjemputan.