Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menaruh perhatian serius terhadap kondisi kesehatan generasi muda di wilayahnya. Melalui program skrining kesehatan masif yang menyasar 56.140 anak usia sekolah dan remaja, ditemukan berbagai indikasi gangguan kesehatan fisik maupun mental yang cukup mengkhawatirkan, mulai dari hipertensi hingga gejala depresi berat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Seruni Angreni Susila, menjelaskan bahwa skrining ini mencakup pelajar di jalur pendidikan formal, nonformal, hingga anak-anak putus sekolah. Dari hasil pemeriksaan fisik, tercatat sebanyak 18,42 persen anak usia sekolah terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi. Selain itu, sekitar 0,73 persen anak mengalami kondisi hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi, dan 3,62 persen atau setara 674 anak berada dalam fase pre-diabetes.
Tidak hanya kesehatan fisik, Dinkes Sleman juga melakukan evaluasi psikologis khusus terhadap 18.845 anak. Hasil pemeriksaan kesehatan mental tersebut menunjukkan adanya indikasi depresi ringan pada 5,6 persen anak dan gejala depresi berat pada 2,38 persen anak. Gangguan kecemasan pun terdeteksi dengan persentase 5,25 persen untuk kategori ringan dan 2,06 persen untuk kategori kecemasan berat.
Temuan lain yang tidak kalah mencemaskan adalah aspek perilaku hidup sehat, di mana kebiasaan merokok mulai merambah usia dini. Data skrining menunjukkan bahwa sebanyak 4,14 persen anak usia pemula di Sleman tercatat sudah mulai melakukan aktivitas merokok.
Seruni menegaskan bahwa munculnya angka-angka ini bukan semata-mata menunjukkan adanya ledakan kasus baru, melainkan cerminan dari semakin baiknya tingkat literasi kesehatan masyarakat serta meningkatnya akses terhadap deteksi dini. Melalui penjaringan yang aktif ini, gangguan kesehatan yang sebelumnya tidak terdeteksi kini dapat dipetakan secara cepat untuk penanganan lebih lanjut.