Platform jejaring profesional LinkedIn mengambil langkah tegas untuk membendung gelombang unggahan dan komentar otomatis yang marak di ekosistemnya. Perusahaan resmi menghapus fitur premium berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti "Write with AI" dan "Enhance your post", lalu menggantinya dengan fitur koreksi ejaan (proofreading) biasa. Kebijakan baru ini diambil guna mengembalikan esensi interaksi yang otentik dan bermakna antar-pengguna profesional.

Menurut penjelasan Vice President of Product LinkedIn, Hari Srinivasan, langkah ini bertujuan mempertemukan para profesional dengan pemikiran dan keahlian manusia yang sebenarnya. LinkedIn mengeklaim telah memblokir miliaran komentar spam otomatis dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, mereka menerapkan sistem klasifikasi (classifier) baru yang dikembangkan bersama tim editorial. Uji coba awal menunjukkan sistem tersebut mampu mendeteksi konten generik nir-kontribusi dengan tingkat akurasi mencapai 94 persen.

Meski bertujuan baik, kebijakan ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengguna. Sebagian menyambut positif keputusan LinkedIn membatasi otomatisasi demi menyaring konten sampah atau "AI slop". Namun, kelompok yang skeptis mengkhawatirkan penilaian subjektif dari algoritma pendeteksi tersebut. Mereka cemas sistem ini justru akan salah sasaran dan menurunkan peringkat unggahan yang ditulis dengan jujur oleh manusia.

Kekhawatiran lain muncul dari sudut pandang aksesibilitas. Sejumlah profesional yang mengidap disleksia, ADHD, afasia, atau mereka yang memiliki keterbatasan bahasa sangat bergantung pada AI untuk menyusun kalimat. Bagi kelompok ini, AI berfungsi sebagai alat bantu komunikasi untuk menyuarakan gagasan orisinal mereka, bukan untuk memproduksi konten palsu secara massal.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, LinkedIn berencana menguji coba sistem penandaan secara privat pada dasbor analitik kreator. Langkah ini diharapkan dapat memberi tahu pengguna secara halus jika gaya tulisan mereka dirasa kurang otentik berdasarkan umpan balik pengguna nyata, bukan sekadar deteksi mesin. Tantangan terbesar LinkedIn kini adalah menarik garis tegas antara pemanfaatan AI sebagai alat bantu kepenulisan dan penyebaran konten sampah otomatis.