Tren olahraga yang marak di kalangan masyarakat urban dewasa ini membawa angin segar bagi kesehatan publik. Namun, manfaat optimal dari aktivitas fisik tersebut sangat bergantung pada presisi pelaksanaannya, mulai dari jenis gerakan, durasi, hingga penentuan waktu yang tepat saat tubuh siap beraktivitas.

Konsep medis modern kini memandang aktivitas fisik sebagai terapi terukur melalui prinsip Exercise is Medicine. Pendekatan ini menegaskan bahwa olahraga layaknya resep obat yang memiliki dosis, frekuensi, dan intensitas tertentu agar mampu memberikan dampak terapeutik secara optimal sekaligus menepis potensi cedera fatal.

Dosen Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, mengemukakan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara benar terbukti menjaga fungsi kognitif otak. Selain itu, olahraga juga memicu pelepasan hormon endorfin yang bertugas meredakan rasa sakit dan memperbaiki suasana hati.

Meski demikian, tidak semua aktivitas fisik dapat disamaratakan. Olahraga dengan intensitas kompetitif dan gerakan dinamis yang berubah-ubah secara mendadak seperti bulu tangkis, tenis, atau futsal, menuntut kesiapan kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan olahraga aerobik yang memiliki ritme konstan.

Zaenal juga menyoroti risiko fatal seperti henti jantung mendadak yang kerap mengintai akibat kelalaian dalam memahami ritme biologis tubuh. Ia mencontohkan, berolahraga berat sesaat setelah makan sangat berbahaya karena aliran darah sedang terkonsentrasi pada sistem pencernaan, sehingga kinerja jantung menjadi tidak optimal dan rentan memicu kolaps.

Untuk memperoleh manfaat maksimal bagi kesehatan otak dan kebugaran tubuh, Zaenal merekomendasikan tiga prinsip utama. Pertama, pilihlah aktivitas yang melibatkan kelompok otot besar seperti lengan dan tungkai. Kedua, terapkan gerakan yang berirama konstan seperti jalan cepat atau bersepeda santai. Ketiga, lakukan latihan secara konsisten selama 30 hingga 40 menit tanpa jeda yang terlalu drastis.

Terakhir, upaya menjaga vitalitas otak juga perlu didukung oleh kebiasaan harian yang dinamis. Menghindari duduk terlalu lama, rutin melakukan peregangan, serta menjaga sirkulasi darah agar pasokan oksigen ke otak tetap terjaga, menjadi langkah krusial dalam memelihara fungsi saraf motorik dan kognitif secara berkelanjutan.