Meta kini tengah memantapkan langkah menuju era baru dalam dunia bisnis yang disebut sebagai agentic commerce. Alex Schultz, Kepala Petugas Data Meta, menegaskan bahwa konsep perdagangan yang dijalankan melalui agen kecerdasan buatan (AI) ini bukanlah sekadar kategori produk tambahan, melainkan sebuah keniscayaan yang akan menjadi fondasi bisnis di masa depan.

Dalam pandangan Schultz, ekonomi agensik saat ini berada pada tahap awal yang krusial. Ia mengumpamakan perkembangannya seperti masa depan yang sudah tersedia namun belum sepenuhnya menjadi arus utama. Saat ini, Meta telah mencatatkan lebih dari satu juta bisnis aktif mingguan yang memanfaatkan agen AI, sebuah pertumbuhan masif yang dimulai dari titik nol pada awal tahun ini.

Pemanfaatan agen AI ini dirancang untuk menyederhanakan tugas logistik yang kompleks. Sebagai ilustrasi, agen AI mampu menangani koordinasi acara hingga negosiasi rantai pasokan melalui aplikasi perpesanan seperti WhatsApp. Meta berharap skalabilitas teknologi ini nantinya dapat mencakup transaksi lintas batas yang lebih luas, dengan lapisan pembayaran yang sepenuhnya mengandalkan stablecoin.

Schultz juga menyoroti keunggulan perdagangan percakapan yang telah diterapkan di Asia melalui platform seperti WeChat dan Line. Ia mengkritik ketergantungan Amerika Serikat pada metode perpesanan konvensional yang dianggap kurang adaptif dibandingkan pendekatan terintegrasi antara percakapan dan pembayaran. Meski sempat menghadapi kendala regulasi saat mencoba meluncurkan proyek Libra di masa lalu, strategi Meta kini bergeser menjadi penyedia antarmuka, sementara penyelesaian pembayaran akan bermitra dengan pihak ketiga yang teregulasi.

Lebih lanjut, Meta menunjukkan ketertarikan pada sistem desentralisasi dan verifikasi identitas untuk mendukung ekosistem ini. Meskipun belum menemukan sistem desentralisasi dengan skala dan keandalan yang mumpuni, Meta terus menjajaki kemungkinan integrasi tersebut. Bagi Meta, pembayaran melalui agen, identitas terdesentralisasi, dan penggunaan stablecoin bukan lagi sekadar visi futuristik, melainkan realitas yang sedang dibangun secara bertahap.