Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa akselerasi digital di Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada kemajuan teknis atau nilai ekonomi semata. Dalam gelaran WSIS Forum 2026, ia menekankan pentingnya menjadikan teknologi sebagai ruang bagi bahasa daerah, pengetahuan adat, serta komunitas lokal agar tetap relevan di tengah arus modernisasi global.

Menurut Meutya, keberhasilan transformasi digital nasional akan diukur dari inklusivitasnya, yakni sejauh mana teknologi mampu menjaga keberagaman budaya dan memberikan manfaat yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia memandang teknologi sebagai jembatan strategis yang menghubungkan inovasi masa depan dengan warisan budaya nusantara.

Sebagai upaya nyata, pemerintah terus memperkuat konektivitas melalui pemanfaatan satelit SATRIA-1, optimalisasi jaringan Palapa Ring, serta perluasan akses 5G. Langkah infrastruktur ini selaras dengan target pemerintah untuk meningkatkan nilai ekonomi digital nasional, yang diproyeksikan mencapai 200 miliar dolar AS pada tahun 2030, sembari menjaga produktivitas dan kualitas hidup warga.

Selain pembangunan fisik, aspek perlindungan ruang digital juga menjadi prioritas. Pemerintah telah mengimplementasikan PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) untuk menjamin keamanan anak di dunia digital. Selain itu, pengembangan kecerdasan artifisial (AI) nasional kini diarahkan agar tetap berpusat pada manusia, transparan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman budaya Indonesia.