Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dalam bisnis komoditas telur di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, kini memasuki babak baru yang kian kompleks. Di tengah laporan sejumlah peternak yang mengaku merugi akibat pembayaran yang seret, muncul kesaksian dari seorang pengepul yang mengklaim telah merampungkan seluruh kewajiban pembayaran atas ratusan rak telur yang dibelinya dari kelompok yang berafiliasi dengan terlapor berinisial R.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengepul yang juga bertindak sebagai pedagang tersebut mengungkapkan bahwa dirinya telah bertransaksi langsung dengan pihak R sepanjang Juli 2026. Dalam kurun waktu tersebut, ia membeli total 600 rak telur yang dibagi ke dalam dua tahap pengiriman: 200 rak pada awal bulan dan 400 rak pada akhir bulan. Ia menegaskan seluruh transaksi tersebut telah dilunasi seketika setelah barang diterima.
Munculnya pengakuan pelunasan ini menghadirkan sudut pandang kontras dalam pusaran kasus ini. Sebelumnya, Polres Bone menerima laporan dari Muhammad Asyraf Rahmat (29) yang mengaku mengalami kerugian sekitar Rp13,2 juta setelah 400 rak telur miliknya diangkut oleh pihak R, namun pembayarannya mandek. Laporan resmi tersebut terdaftar dengan nomor LP/498/VIII/2026/SPKT/RES BONE tertanggal 7 Agustus 2026.
Pola distribusi telur ini pun kini menjadi fokus penyelidikan aparat kepolisian. R sebelumnya diduga menawarkan kerja sama kepada para pemilik kandang ayam petelur dengan dalih memasok kebutuhan sebuah perusahaan di Sulawesi Tenggara. Namun, dengan adanya pengakuan dari pengepul lokal yang membeli telur dari kelompok R, polisi perlu menelusuri secara saksama alur perpindahan barang serta aliran dana dari setiap transaksi yang terjadi.
Di sisi lain, kuasa hukum R membantah tuduhan penipuan massal tersebut. Pihaknya berdalih bahwa persoalan ini murni merupakan wanprestasi atau keterlambatan pembayaran dalam hubungan bisnis, bukan sebuah tindak pidana penggelapan. Pembuktian kini berada di tangan penyidik Polres Bone yang harus mencocokkan dokumen pengiriman, bukti transfer perbankan, riwayat percakapan digital, hingga memeriksa para sopir pengantar untuk mengurai alur rantai dagang ini secara terang benderang.