Gaya hidup pekerja perkotaan yang dinamis sering kali menuntut produktivitas tinggi, namun sayangnya kerap diiringi dengan pengabaian terhadap kesehatan pencernaan. Kebiasaan melewatkan waktu makan, mengonsumsi kopi secara berlebihan demi menahan kantuk, hingga menyantap porsi besar sebelum tidur kini memicu peningkatan kasus gangguan asam lambung, termasuk Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Spesialis Penyakit Dalam dari Mayapada Hospital Jakarta Timur, dr. Ario Perbowo Putra, Sp.PD-FINASIM, menjelaskan bahwa gangguan asam lambung yang terjadi terus-menerus tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, kombinasi antara pola makan yang tidak teratur, jeda makan terlalu lama, konsumsi jenis makanan tertentu, serta tekanan stres pekerjaan menjadi faktor utama yang merangsang produksi asam lambung berlebih.

Secara medis, GERD terjadi saat otot katup kerongkongan bagian bawah (LES) melemah, sehingga cairan asam lambung dapat naik kembali ke saluran pencernaan atas. Kondisi ini memicu sensasi dada terbakar (heartburn), rasa pahit di mulut, tenggorokan mengganjal, hingga mual dan kembung. Gejala ini biasanya memburuk pada malam hari, terutama setelah mengonsumsi makanan berat lalu langsung berbaring.

Untuk kasus yang kerap kambuh atau tidak kunjung mereda, dr. Ario menyarankan pemeriksaan endoskopi guna mengevaluasi kondisi fisik lambung dan kerongkongan secara akurat. Selain itu, langkah pencegahan secara mandiri dapat dilakukan dengan menghindari makan larut malam, membatasi makanan pedas dan berlemak, mengurangi kafein, serta mengelola stres dengan baik.

Menjawab kebutuhan tersebut, Gastrohepatology Center di Mayapada Hospital Jakarta Timur menyediakan layanan komprehensif yang didukung tim dokter spesialis multidisiplin dan fasilitas diagnostik mutakhir seperti USG abdomen, CT Scan, MRI, hingga tindakan endoskopi. Rumah sakit ini juga menghadirkan unit darurat penyakit dalam (Internist Emergency) yang bersiaga selama 24 jam untuk menangani kondisi darurat pasien.