Sebuah dokumenter berjudul The Other Daughter (2024) karya Fala Pratika baru-baru ini menyulut perbincangan mendalam di acara Kelas Liar, Bandung. Film ini mengajak penonton menyelami pertanyaan eksistensial tentang bagaimana luka masa lalu dapat berpindah dan terus hidup dalam sebuah keluarga dari generasi ke generasi. Melalui kisah tiga perempuan dengan latar belakang berbeda, audiens diajak menyadari bahwa pemahaman akan asal-usul luka adalah langkah awal untuk tidak sekadar melanggengkan pola asuh yang traumatis.
Diskusi yang berlangsung di Perpustakaan Bunga di Tembok tersebut menjadi ruang aman bagi para peserta untuk merefleksikan pengalaman pribadinya. Fenomena ini muncul di tengah tingginya angka gangguan kesehatan mental di Kota Bandung. Data skrining pemerintah setempat pada akhir 2025 menunjukkan hampir separuh dari 148.239 siswa yang diperiksa terindikasi mengalami kendala kesehatan mental, sebuah statistik yang menekankan bahwa isu ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan dampak dari lingkungan sosial yang kompleks.
Pakar dari Bloom Under The Sun, Ayas, menjelaskan bahwa trauma antargenerasi sering kali tertanam melalui pola asuh ekstrem, komunikasi yang tidak sehat, hingga represi emosi. Dalam ekosistem keluarga yang kental dengan nilai patriarki, anak sering kali dituntut untuk bungkam dan memendam perasaan demi menjaga harmoni semu. Ketegangan ini semakin diperburuk oleh beban hidup di perkotaan yang membuat banyak orang tua kehilangan kapasitas emosional untuk mendampingi buah hatinya secara utuh.
Namun, memutus rantai trauma bukanlah hal yang mustahil. Ayas menekankan pentingnya konsep *reparenting*, di mana seseorang belajar memberikan kasih sayang dan validasi pada diri sendiri yang mungkin tidak didapatkan di masa lalu. Langkah ini memerlukan keberanian untuk menetapkan batasan emosional yang sehat, tanpa harus mengharapkan perubahan instan dari generasi pendahulu.
Transformasi menuju kesehatan mental yang lebih baik dimulai dari keberanian untuk bersuara dan mencari dukungan komunitas. Dengan menormalisasi percakapan seputar terapi dan kesehatan psikis di lingkungan sosial, diharapkan individu dapat terlepas dari stigma. Pada akhirnya, memahami akar luka dan membangun ruang saling dukung menjadi kunci utama untuk memastikan rantai trauma berhenti pada generasi hari ini.