Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Jakarta pekan ini bukan sekadar agenda diplomatik seremonial. Di balik pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, terdapat kepentingan ekonomi strategis terkait keberlangsungan ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia yang mencapai nilai fantastis, yakni Rp21,42 triliun.
Sebagai salah satu mitra dagang utama, India menjadi destinasi pasar yang vital bagi komoditas andalan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, India telah menyerap sekitar 11,9 persen dari total ekspor CPO Indonesia, dengan volume pengiriman menembus angka 1,06 juta ton. Posisi strategis ini menempatkan India sebagai pembeli nomor wahid, jauh mengungguli Pakistan, Tiongkok, dan Bangladesh.
Namun, optimisme angka kumulatif tersebut dibayangi oleh data terkini pada Mei 2026 yang menunjukkan kontraksi tajam. Nilai ekspor CPO ke India merosot drastis hingga 85,63 persen secara tahunan, sementara volume pengiriman menyusut ke angka 31,4 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini sejalan dengan melemahnya impor minyak nabati India secara umum, yang dipicu oleh penurunan permintaan domestik dan penyempitan selisih harga antar-komoditas minyak nabati di Negeri Bollywood tersebut.
Para pelaku pasar mengkhawatirkan bahwa tren penurunan impor oleh India ini berpotensi memicu penumpukan stok di negara produsen, yang nantinya dapat menekan harga minyak sawit di pasar global. Meski demikian, kinerja ekspor secara keseluruhan dalam lima bulan pertama tahun 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif, dengan nilai total mencapai US$9,59 miliar atau naik sekitar 7,71 persen.
Dalam lawatannya, PM Modi diagendakan membahas kerja sama lintas sektor, mulai dari pertahanan, kesehatan, hingga pengembangan teknologi. Para pengamat menilai bahwa penguatan hubungan bilateral ini menjadi instrumen penting bagi Indonesia untuk memitigasi risiko volatilitas pasar, sekaligus memastikan kelancaran arus perdagangan komoditas di masa depan.