PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) secara progresif mulai membentangkan sayap bisnisnya ke sektor energi bersih masa depan melalui proyek pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen). Sebagai langkah awal, badan usaha milik negara di sektor panas bumi ini menargetkan pengoperasian komersial (commercial operation date/COD) proyek percontohan hidrogen hijau di Lapangan Panas Bumi Ulubelu, Lampung, pada November 2026 mendatang.
Pada fase perdana ini, fasilitas di Ulubelu dirancang untuk memproduksi hidrogen hijau berkapasitas 100 kilogram per hari. Inisiatif strategis ini bukan sekadar uji coba teknologi semata, melainkan fondasi penting bagi PGE untuk membangun ekosistem energi rendah karbon terintegrasi guna mengoptimalkan potensi geothermal Indonesia yang melimpah di luar sektor pembangkitan listrik konvensional.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa proyek percontohan ini diproyeksikan tumbuh menjadi bisnis yang layak secara komersial dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Langkah proaktif ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan hidrogen nasional dan global, sebagaimana tertuang dalam cetak biru (blueprint) hidrogen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan cadangan panas bumi nasional yang mencapai 24 gigawatt (GW), Indonesia dinilai memiliki modalitas kuat untuk memimpin industri ini.
Sementara itu, Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa diversifikasi bisnis ke sektor hidrogen hijau ini juga menyasar pasar non-kelistrikan (off-grid), termasuk untuk memenuhi kebutuhan sektor industri berteknologi tinggi seperti pusat data (data center). Penggunaan skala kecil 100 kilogram per hari sengaja dipertahankan untuk mematangkan kesiapan rantai pasok dan keekonomian produk sebelum bersaing penuh dengan hidrogen berbasis fosil (grey hydrogen).
Seluruh hasil produksi awal dari lapangan Ulubelu ini nantinya akan diserap untuk kebutuhan operasional internal Grup Pertamina, seperti di Kilang Plaju dan Terminal LNG Tanjung Sekong. Selain itu, PGE telah menjalin kemitraan strategis dengan Toyota melalui nota kesepahaman (MoU) untuk menyuplai sekitar 20 kilogram hidrogen per hari guna mendukung mobilitas ramah lingkungan pabrikan otomotif tersebut. PGE optimistis pilot project ini akan menjadi batu loncatan penting dalam menguasai aspek keselamatan, transportasi, dan logistik distribusi energi masa depan di tanah air.