Otoritas Keamanan Pangan India (FSSAI) mengambil langkah tegas dengan menolak permohonan sejumlah raksasa minuman global untuk menunda kebijakan penghapusan label "minuman energi" pada produk berkafein tinggi. Regulator hanya memberikan tenggat waktu selama 90 hari bagi produsen, seperti PepsiCo, Red Bull, Monster Beverage, hingga Reliance Consumer Products, untuk menyesuaikan kemasan mereka. Keputusan ini dinilai akan mengguncang pasar minuman berenergi di India yang tengah mengalami pertumbuhan sangat pesat.
Larangan penggunaan istilah tersebut didasarkan pada absennya standar regulasi khusus yang mengatur klasifikasi "minuman energi" di India. FSSAI menilai pencantuman label tersebut menyesatkan konsumen dan menyalahi ketentuan keamanan pangan yang berlaku. Pemerintah setempat menegaskan bahwa produsen seharusnya mematuhi aturan ini tanpa penundaan karena mereka dianggap telah melanggar ketentuan yang ada dalam jangka waktu lama.
Kebijakan ketat ini hadir di tengah masa keemasan industri minuman berkafein di India. Berdasarkan data Euromonitor, pertumbuhan penjualan ritel sektor ini di India mencapai rata-rata 12,6 persen per tahun, melampaui performa pasar raksasa seperti Amerika Serikat dan China. Lonjakan signifikan ini bermula sejak PepsiCo meluncurkan produk bermerek Sting pada 2017 dengan harga terjangkau, yang dengan cepat memikat pasar remaja serta wilayah pedesaan.
Penolakan perpanjangan waktu ini memicu kekhawatiran dari para pelaku industri. Asosiasi produsen sebelumnya meminta kelonggaran waktu minimal satu tahun untuk menghabiskan stok produk yang telanjur beredar luas di pasar serta menyelesaikan pesanan kemasan impor. Namun, pemerintah bergeming dan menganggap waktu 90 hari sudah lebih dari cukup untuk mengosongkan inventaris distributor jika sistem pelacakan produk dijalankan dengan baik oleh korporasi.
Ketegangan kian meningkat seiring dengan tindakan penyitaan produk non-kompatibel yang mulai dilakukan oleh otoritas keamanan pangan di beberapa negara bagian, termasuk Rajasthan dan Ladakh. Di tingkat global, pengetatan aturan terhadap minuman berkafein tinggi juga sedang marak terjadi karena kekhawatiran atas dampak kesehatan kandungan gula dan taurin, seperti di Inggris yang berencana melarang penjualannya kepada anak di bawah umur mulai tahun depan.