Sebuah studi mendalam dari EXL menyoroti adanya kesenjangan signifikan antara persepsi dan kenyataan dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) di kalangan korporasi Inggris. Data menunjukkan bahwa sebanyak 75% pelaku bisnis merasa telah unggul dalam mengintegrasikan teknologi ini ke dalam alur kerja mereka. Namun, faktanya, hanya 12% perusahaan yang layak menyandang status sebagai pemimpin AI dengan capaian kinerja yang terukur.
Hambatan utama yang kerap dijumpai oleh mayoritas perusahaan adalah pengelolaan data. Sebanyak 77% responden mengakui bahwa keterbatasan dan kompleksitas data menjadi kendala terbesar yang menghalangi mereka untuk memaksimalkan potensi AI. Tanpa fondasi data yang kuat, implementasi teknologi yang canggih sering kali tidak memberikan dampak signifikan terhadap performa perusahaan.
Di sisi lain, sektor utilitas tampil sebagai anomali positif dengan menunjukkan keberhasilan paling nyata dalam pemanfaatan AI. Perusahaan di sektor ini berhasil mencatatkan peningkatan efisiensi yang impresif, dengan rata-rata penurunan biaya operasional serta lonjakan pertumbuhan pendapatan mencapai 27%.
Menanggapi temuan ini, para ahli menekankan perlunya perubahan paradigma bagi perusahaan yang masih tertinggal. Adopsi teknologi AI tidak bisa sekadar menjadi tren; perusahaan harus melakukan perombakan fundamental pada model operasional mereka agar teknologi tersebut benar-benar menjadi penggerak nilai ekonomi, bukan sekadar pelengkap administratif.