Keimanan dalam Islam tidak boleh berhenti pada tataran spiritual semata, melainkan harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh mantan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Afif Muhammad, dalam kajian rutin Lembaga Pengkajian, Pengenalan, dan Aplikatif Nilai-Nilai Keislaman (LPPAIK) di Musala UM Bandung. Menurutnya, amal saleh sejati harus menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang maju dan bermanfaat luas.

Merujuk pada pemikiran ulama Harits bin Asad, Afif menjelaskan bahwa amal saleh memiliki tiga dimensi utama yang saling bertautan, yaitu dimensi fisik (jawarih), intelektual, dan kalbu. Ketiga elemen ini membentuk karakter muslim yang utuh. Dimensi pertama, amal jawarih, menuntut setiap individu tidak hanya berniat baik, tetapi juga memiliki keahlian profesional dan kemampuan mengadopsi ilmu pengetahuan serta teknologi mutakhir.

Sementara itu, dimensi intelektual menitikberatkan pada penciptaan karya nyata dari ilmu yang diperoleh. Afif mengingatkan institusi pendidikan tinggi agar tidak sekadar melahirkan lulusan pemburu gelar akademik, melainkan mencetak intelektual yang inovatif. Ia mencontohkan Buya Hamka, sosok ulama yang warisan pemikirannya tetap hidup dan menginspirasi lintas generasi, sebagai bukti nyata dari ilmu yang bermanfaat.

Landasan dari semua aktivitas tersebut adalah amal kalbu, yang memadukan keimanan dan keikhlasan. Afif menekankan pentingnya menjaga keselarasan hubungan dengan Sang Pencipta (hablum minallah) dan hubungan antarsesama manusia (hablum minannas). Dalam perspektif ini, bekerja secara profesional dengan niat yang tulus merupakan bagian dari ibadah.

Lebih lanjut, Afif mendorong umat Islam untuk kembali memelopori perkembangan sains, mencontoh kegemilangan sejarah seperti yang diukir oleh Imam At-Thabari. Karya besar cendekiawan klasik tersebut, seperti kitab sejarah dan tafsirnya, masih menjadi rujukan utama dunia akademis hingga kini karena memadukan kedalaman iman dengan ketajaman ilmu.

Menghadapi era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tantangan umat kian kompleks. Afif mengingatkan bahwa akselerasi teknologi harus senantiasa dipandu oleh nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Tanpa moralitas keagamaan, kemajuan teknologi berisiko disalahgunakan dan menjauhkan manusia dari peran hakikinya sebagai khalifah di bumi. Keseimbangan iman, ilmu, dan amal adalah kunci peradaban yang beradab.