Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah bertransformasi dari sekadar tren teknologi menjadi elemen fundamental dalam strategi bisnis. Di era transformasi digital 5.0, kemampuan organisasi untuk mengadopsi AI menjadi penentu utama dalam memenangkan persaingan pasar yang kian dinamis dan kompetitif.

Pandangan ini disampaikan oleh pakar manajemen dari Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Ahmad Hidayat Sutawidjaya, dalam sebuah seminar daring yang diselenggarakan oleh Universitas STEKOM. Menurutnya, perusahaan yang mengintegrasikan AI secara tepat tidak hanya akan mendapatkan efisiensi operasional, tetapi juga menciptakan inovasi nilai tambah yang lebih relevan bagi konsumen.

Lebih jauh, Prof. Ahmad menjelaskan bahwa peran AI kini telah meluas, mencakup berbagai aspek krusial seperti analisis perilaku konsumen, pemasaran strategis, hingga pengembangan model bisnis baru. Bagi para wirausahawan muda, teknologi ini berfungsi sebagai akselerator yang mampu menyederhanakan proses riset pasar dan mempercepat eksekusi ide kreatif di lapangan.

Kendati demikian, penggunaan teknologi ini harus dibarengi dengan tata kelola yang bijak. Prof. Ahmad menekankan pentingnya aspek etika, perlindungan data pribadi, dan pengawasan manusia agar AI tetap menjadi mitra kerja, bukan pengganti peran strategis manusia dalam pengambilan keputusan yang membutuhkan empati serta penilaian moral.

Keberhasilan transformasi berbasis AI, menurut Prof. Ahmad, lebih bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi daripada sekadar kecanggihan teknis. Proses transformasi harus dilakukan secara bertahap, mulai dari penyesuaian budaya kerja hingga pematangan proses pengambilan keputusan, demi memastikan implementasi AI memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi organisasi.