Jauh sebelum dikenal sebagai daratan yang diselimuti es abadi dengan suhu ekstrem, Antartika ternyata pernah menjadi rumah bagi ekosistem hutan tropis yang subur. Temuan fosil tumbuhan purba jenis Glossopteris oleh tim ekspedisi Kapten Robert Falcon Scott pada tahun 1912 menjadi bukti tak terbantahkan bahwa benua paling selatan ini dulunya memiliki iklim yang hangat dan vegetasi yang rimbun.
Perubahan drastis ini berakar dari perpecahan superbenua Gondwana sekitar 200 juta tahun yang lalu. Pergerakan lempeng tektonik perlahan memisahkan Antartika dari daratan lain, membawanya hanyut hingga menempati posisi geografisnya saat ini di area Kutub Selatan. Posisi baru ini menyebabkan minimnya paparan energi Matahari yang diterima, yang menjadi titik awal penurunan suhu di wilayah tersebut.
Selain faktor geografis, penurunan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer Bumi sekitar 55 juta tahun lalu turut memicu pendinginan global secara signifikan. Kondisi iklim yang berubah ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi terbentuknya gletser permanen di daratan Antartika, sebuah fenomena yang jauh mendahului pembentukan lapisan es di Belahan Bumi Utara.
Puncak dari transformasi Antartika terjadi saat Australia dan Amerika Selatan menjauh, yang membuka jalan bagi terbentuknya Arus Sirkumpolar Antarktika. Arus laut ini bekerja sebagai penghalang alami yang mengisolasi benua dari aliran air hangat tropis, sehingga suhu di sana terus merosot hingga mencapai kondisi beku yang kita saksikan saat ini.
Proses pembekuan ini juga dipercepat oleh mekanisme umpan balik albedo, di mana permukaan es yang putih memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke atmosfer. Fenomena ini menciptakan siklus pendinginan mandiri, didukung oleh peningkatan ketinggian daratan akibat penebalan es, yang secara konsisten menjaga Antartika tetap menjadi benua terdingin di planet ini.