IPB University tengah mengakselerasi pengembangan teknologi mutakhir untuk mendeteksi kekurangan nutrisi pada tanaman kelapa sawit. Melalui integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan citra satelit beresolusi tinggi, inovasi ini dirancang guna menyajikan rekomendasi pemeliharaan kebun kelapa sawit secara lebih presisi dan efisien.

Kepala Lembaga Riset Internasional (LRI) Teknologi Maju IPB University, Prof. Anas Miftah Fauzi, menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan menggeser metode pemantauan konvensional. Analisis kesehatan tanaman kini tidak lagi hanya bergantung pada pengamatan langsung di lapangan, melainkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengolah data satelit secara real-time.

Dalam mewujudkan sistem identifikasi dini ini, IPB University menggandeng PT Dabeeo Artificial Intelligence Indonesia, sebuah perusahaan asal Korea Selatan yang ahli dalam pemanfaatan data satelit. Teknologi baru ini nantinya akan menyempurnakan sistem "Precipalm", teknologi besutan IPB sebelumnya yang berfokus pada rekomendasi pemupukan lewat analisis citra daun.

Kemitraan strategis ini memberikan akses ke satelit beresolusi tinggi milik Dabeeo yang memiliki ketajaman hingga 30 sentimeter. Dengan kemampuan memantau kerapatan pohon, tutupan tajuk (canopy), serta deteksi perubahan historis vegetasi, teknologi ini diharapkan mampu mengidentifikasi serangan penyakit pada tanaman sawit sejak fase awal.

Komitmen kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak. Kepala Pengembangan Bisnis Dabeeo Indonesia, Rizky Dantri, menyatakan komitmen penuh pihaknya untuk mendukung pendanaan riset, khususnya dalam penyediaan dan akuisisi data citra satelit selama penelitian berlangsung.