Upaya meningkatkan kesejahteraan perajin lidi bambu di Kampoeng Deling, Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, mendapat dorongan teknologi baru. Tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Universitas Ma Chung resmi memperkenalkan mesin pemoles lidi inovatif bernama "Esek-Gesek" pada Rabu (12/8/2026) guna mendongkrak produktivitas dan nilai jual produk lokal.
Selama puluhan tahun, mayoritas warga Kampoeng Deling menggantungkan hidup dari kerajinan lidi bambu. Namun, keterbatasan alat yang masih bersifat manual membuat kualitas lidi yang dihasilkan cenderung kasar, sehingga nilai jualnya di pasaran sangat rendah dan proses produksinya memakan waktu lama serta berisiko mencederai pekerja.
Intervensi teknologi ini merupakan kelanjutan dari Program Hibah Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun kedua. Jika pada tahun pertama (2025) tim memfokuskan bantuan pada mesin penyerut untuk efisiensi hulu, kini kehadiran mesin pemoles lidi "Esek-Gesek" hadir untuk menyempurnakan fase hilir produksi agar menghasilkan lidi halus siap jual.
Mesin pemoles ini bekerja dengan menerapkan metode gesekan mekanis antarlidi di dalam wadah khusus berkapasitas 30 hingga 50 kilogram. Metode ini terbukti ampuh membersihkan serabut kasar tanpa merusak serat alami bambu, sekaligus meningkatkan harga jual produk akhir hingga lebih dari 50 persen di pasaran.
Ketua Tim Abdimas PDB Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Anna Triwijayati, S.E., M.Si., menegaskan bahwa program ini dirancang secara komprehensif. Tidak hanya menyerahkan bantuan mesin, pihak universitas juga memberikan pelatihan manajemen keuangan, perawatan mekanis secara mandiri, hingga teknik pengemasan produk yang menarik.
Ketua Paguyuban Kampoeng Deling, Suyanto, menyambut positif modernisasi alat ini. Menurutnya, mesin "Esek-Gesek" mampu mengolah sekitar 40 kilogram lidi hanya dalam waktu satu jam, jauh lebih efisien dibandingkan metode tradisional yang membutuhkan ketelitian tinggi serta berisiko melukai tangan perajin.
Melalui integrasi teknologi tepat guna ini, Desa Sumberdem yang terletak di kawasan lereng Gunung Kawi diharapkan tidak lagi sekadar menjadi produsen bahan mentah. Modernisasi ini menjadi langkah strategis bagi desa menuju kemandirian ekonomi berbasis manufaktur skala mikro yang berkelanjutan.