Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, secara resmi memperkenalkan teknologi Lahsamor sebagai terobosan baru dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga. Inovasi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini dipamerkan dalam kunjungan kerjanya di Denpasar, Bali, pada Kamis (9/7/2026).

Secara teknis, Lahsamor dirancang dengan mekanisme sederhana menyerupai drum yang mudah dioperasikan. Pengguna hanya perlu memasukkan 0,5 hingga 1 kilogram sampah sisa makanan ke dalam alat, kemudian memutar tuas sebanyak lima kali. Proses ini memungkinkan sampah organik terurai menjadi kompos yang secara otomatis meluruh, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk pengangkatan manual seperti pada metode pengomposan konvensional.

Zulkifli menegaskan bahwa teknologi ini hadir sebagai pelengkap sistem pengelolaan sampah yang ada, khususnya bagi masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan untuk membuat teba atau lubang kompos tradisional. Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan limbah tetap bergantung pada kedisiplinan masyarakat dalam memilah sampah di sumbernya masing-masing.

Menanggapi efektivitas alat tersebut, pemerintah berencana mendorong pengembangan kapasitas Lahsamor agar dapat digunakan dalam skala yang lebih luas, seperti di lingkungan kantor maupun sekolah, dengan target kapasitas mencapai 50 kilogram per hari. Langkah ini diambil sebagai upaya holistik pemerintah dalam menekan volume sampah organik yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Selain fokus pada limbah organik, pemerintah juga tengah menyiapkan peluncuran fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali pada 8 Juli 2026. Inisiatif tersebut ditujukan untuk menangani sampah anorganik serta meminimalisir risiko kesehatan dan bahaya kebakaran yang kerap muncul akibat sistem penimbunan sampah terbuka (open dumping).