Dalam rangka memperingati Hari Self-Care Internasional, Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) mengajak masyarakat untuk memperkuat literasi kesehatan. Langkah ini dinilai krusial agar publik mampu mengambil keputusan medis secara mandiri dan bertanggung jawab, khususnya saat menghadapi gangguan kesehatan ringan sehari-hari.

Merawat diri secara mandiri (self-care) bukan sekadar menjaga gaya hidup sehat atau relaksasi fisik semata. WHO mengartikannya sebagai kapasitas individu, keluarga, dan komunitas dalam meningkatkan, memelihara, serta mengatasi penyakit dengan atau tanpa bantuan tenaga medis profesional. Oleh sebab itu, pemahaman yang baik mengenai batas kemampuan penanganan mandiri dan kapan harus mencari bantuan dokter menjadi kunci utama.

Ketua APSMI, Rachmadi Joesoef, menjelaskan bahwa kemandirian kesehatan yang berbasis pada literasi yang kuat tidak hanya berdampak positif bagi individu, tetapi juga meringankan beban fasilitas kesehatan. Merujuk pada laporan sosio-ekonomi Global Self-Care Federation (GSCF) tahun 2026, penerapan self-care yang tepat berpotensi menghemat anggaran kesehatan global hingga 144 miliar dolar AS per tahun serta membebaskan miliaran jam kerja dokter untuk menangani kasus penyakit yang lebih kompleks.

Kendati demikian, APSMI mengingatkan bahwa pengobatan mandiri tidak sama dengan konsumsi obat secara bebas tanpa aturan. Masyarakat dituntut untuk cermat dalam memilih obat bebas (over-the-counter), membaca label peringatan, mematuhi dosis, serta tanggap mengenali gejala darurat yang memerlukan penanganan klinis dari dokter.

Guna mewujudkan ekosistem kesehatan mandiri yang ideal, diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan tenaga medis. Sebagai bagian dari upaya tersebut, isu penguatan self-care berbasis bukti ilmiah ini akan dibahas secara mendalam dalam forum APSMI Self-CARER Bali Summit yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober hingga awal November 2026 mendatang.