Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan pentingnya penguatan kapasitas teknologi dan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi pergeseran pola penyebaran radikalisme. Di tengah era digital, jaringan terorisme kini memanfaatkan platform virtual secara masif untuk memperluas pengaruhnya.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, menjelaskan bahwa doktrinasi kelompok radikal saat ini tidak lagi bertumpu pada pertemuan tatap muka fisik maupun struktur organisasi konvensional. Transformasi digital dimanfaatkan oleh jaringan teror secara adaptif untuk melancarkan tiga misi utama, yaitu rekrutmen anggota baru, penyebaran propaganda, serta penggalangan dana.

Kendati tantangan siber semakin kompleks, Indonesia berhasil mempertahankan catatan positif dalam upaya penanggulangan terorisme. BNPT mencatat tidak adanya aksi teror yang terjadi di tanah air sejak tahun 2024. Keberhasilan ini merupakan buah dari kesiapan preventif aparat keamanan dan intelijen dalam mendeteksi sekaligus menggagalkan potensi ancaman sejak dini.

Sinergi yang kuat antara lembaga penegak hukum, pemerintah daerah, kalangan akademisi, tokoh agama, media, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas keamanan nasional. Momentum hari jadi BNPT ke-16 yang mengusung tema "Kolaborasi Jaga Indonesia" menjadi dorongan kuat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus mempererat kerja sama.

Guna mengantisipasi ancaman yang terus berevolusi, masyarakat diimbau untuk meningkatkan literasi digital serta memperkuat ketahanan terhadap penyebaran ideologi kekerasan di ruang siber. BNPT berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi mutakhir demi menjaga ruang siber Indonesia tetap aman dan kondusif.