Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif menuntut Indonesia untuk segera berbenah. Tokoh nasional Ridwan Hisjam menegaskan pentingnya perumusan strategi pembaruan yang komprehensif demi memastikan kesiapan teknologi nasional di tengah dinamika revolusi digital global saat ini.
Ridwan menyatakan bahwa kecerdasan buatan bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan realitas yang telah mengubah lanskap ekonomi, tata kelola pemerintahan, pendidikan, hingga sektor industri. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah adaptif dan inovatif agar tidak hanya menjadi pangsa pasar produk asing, tetapi juga mampu tampil sebagai pemain aktif di kancah global.
Ada beberapa poin krusial dalam strategi pembaruan yang diusulkan. Pertama, pemerintah bersama para pemangku kepentingan didesak untuk segera merancang regulasi yang progresif dan adaptif. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjembatani pesatnya inovasi teknologi dengan perlindungan data pribadi serta aspek keamanan siber yang ketat.
Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama. Melalui reformasi kurikulum pendidikan nasional, integrasi pemahaman teknologi, sains data, dan kemampuan berpikir kritis harus diterapkan sejak dini untuk mencetak talenta digital yang kompetitif.
Ketiga, implementasi kecerdasan buatan harus didorong secara inklusif, termasuk menyasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pemanfaatan otomasi cerdas dan analisis data dinilai dapat mendongkrak efisiensi serta daya saing produk lokal di pasar internasional.
Terakhir, sinergi lintas sektor atau konsep kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat harus diperkuat. Menurut Ridwan, ekosistem teknologi yang mandiri dan beretika hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bangsa bergerak cepat dan memiliki visi jangka panjang yang selaras.