Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan empati dalam pelayanan medis di tengah pesatnya gempuran teknologi kesehatan modern. Hal tersebut disampaikannya saat membekali mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada kegiatan PIONIR I-Dentistry di Auditorium Gedung Margono Soeradji FKG UGM, Sleman, Kamis (6/8/2026).
Menurut Hasto, disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), genomik, hingga telemedicine memang telah merevolusi sektor kesehatan secara global. Kendati demikian, kemajuan ini membawa tantangan moral bagi para calon dokter gigi untuk tetap mengedepankan komunikasi yang santun dan pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial-ekonomi pasien, bukan sekadar mengandalkan algoritma digital.
Selain menyoroti aspek humanis, Hasto memaparkan ketimpangan distribusi tenaga medis di Indonesia yang saat ini masih terpusat di wilayah barat dan belum memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berbeda dengan kondisi nasional, Kota Yogyakarta justru mencatatkan rasio tenaga medis yang sangat ideal, dengan angka 49,7 dokter gigi dan 153,4 dokter umum per 100.000 penduduk, jauh melampaui ambang batas minimal yang ditetapkan.
Guna memaksimalkan potensi pelayanan, Pemerintah Kota Yogyakarta terus menggulirkan berbagai program kesehatan inovatif di tingkat akar rumput. Salah satunya adalah inisiatif "Satu Kampung Satu Bidan atau Tenaga Kesehatan" yang bertujuan memantau riwayat kesehatan warga secara komprehensif, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga pencegahan penyakit menular dan non-menular.
Hasto juga mendorong FKG UGM untuk tidak hanya mencetak lulusan yang cakap secara akademis, melainkan juga melahirkan pemimpin kesehatan masa depan yang memegang teguh Sumpah Hipokrates. Kemitraan strategis antara pemerintah dan akademisi ini terus diperkuat melalui program Kampung Tematik One Village One Sister University demi mempercepat peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta.