SEMARANG - Kota Semarang menjadi pusat perhatian dunia pendidikan nasional setelah sebanyak 210 pakar teknologi pendidikan dari 33 perguruan tinggi se-Indonesia berkumpul dalam forum strategis. Pertemuan ini bertujuan merumuskan arah baru metode pembelajaran guna menjawab tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI).
Agenda besar ini dikemas dalam Temu Kolegial Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI) ke-11 serta Konferensi Internasional ke-2 Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI). Diselenggarakan pada 6-8 Agustus 2026 di Hotel Horison Ultima Sentraland, Universitas Negeri Semarang (UNNES) didapuk sebagai tuan rumah penyelenggara.
Ketua Panitia, Dr. Yuli Utanto, M.Si., menyampaikan kebanggaannya atas antusiasme luar biasa dari para delegasi. Perwakilan kampus-kampus besar seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hingga Universitas Negeri Makassar (UNM) hadir untuk berkolaborasi demi memajukan sektor teknologi pendidikan nasional.
Tantangan utama dunia pendidikan saat ini adalah kecepatan adaptasi kurikulum terhadap laju teknologi digital dan kecerdasan buatan. Wakil Rektor 4 Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNNES, Prof. Dr. Nur Qudus, M.T., IPM., menegaskan pentingnya melahirkan lulusan yang mampu berpikir kritis untuk mengisi posisi penting industri, khususnya sebagai perancang instruksional (instructional designer).
Sementara itu, Ketua APS-TPI, Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd., memaparkan sejumlah hasil konkret dari pertemuan nasional ini. Salah satu capaian utamanya adalah standardisasi kurikulum inti teknologi pendidikan, peluncuran program mikrokredensial bagi mahasiswa, serta perilisan tiga buku referensi baru untuk memperkuat akreditasi dan jurnal ilmiah bereputasi internasional.
Mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kepala Brida Jateng, Drs. Mohammad Arief Irwanto, M.Si., yang membuka acara menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi, peran guru sebagai penanam nilai moral tidak akan tergantikan. Ia berharap inovasi teknologi pendidikan dapat terus didorong untuk menjangkau daerah terpencil demi pemerataan akses belajar yang inklusif di Indonesia.