Pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Bali berbanding lurus dengan membanjirnya investasi asing di industri kuliner atau makanan dan minuman (F&B). Fenomena ini membawa angin segar berupa inovasi dan standarisasi global, namun di sisi lain memicu tantangan berat bagi pelaku usaha domestik, mulai dari lonjakan harga sewa lahan hingga ketatnya persaingan modal.

Merespons dinamika tersebut, Dewan Pimpinan Daerah Indonesian Food and Beverage Executive Association (DPD IFBEC) Bali memperkuat langkah strategis melalui kemitraan dengan sektor akademis. Langkah ini diresmikan lewat penandatanganan kerja sama (MoU) dengan Mediterranean Bali, Atlantis International College, dan Triatma Mulya dalam acara gathering IFBEC Bali di Truntum Kuta, Badung.

Ketua DPD IFBEC Bali, I Wayan Eka Darmawan, menjelaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal menjadi kunci utama agar mampu bersaing di industri yang kian kompetitif. Ia menyoroti masih adanya kesenjangan kompetensi pada lulusan baru, khususnya terkait penguasaan bahasa asing, operasional dasar restoran, serta etos kerja di industri hospitality.

Melalui kolaborasi ini, kurikulum perguruan tinggi akan diselaraskan dengan kebutuhan terkini industri F&B. Praktisi profesional dari IFBEC nantinya akan turun langsung ke kampus sebagai pengajar tamu dan mentor, sekaligus membuka jalur program magang yang terstruktur bagi mahasiswa guna mempersiapkan mereka sebelum terjun ke dunia kerja nyata.

Selain fokus pada peningkatan kapasitas SDM, IFBEC juga menyoroti perubahan peta bisnis kuliner di kawasan populer seperti Canggu, Seminyak, dan Uluwatu. Kehadiran investor asing memang membawa teknik pemasaran digital yang kreatif dan standar pelayanan tinggi. Namun, kekuatan modal mereka yang besar kerap membuat pelaku usaha lokal kesulitan mengimbangi harga sewa lahan yang kian melambung.

Asosiasi ini juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap praktik kepemilikan usaha berkedok nama warga lokal (nominee). Kendati demikian, IFBEC mengapresiasi upaya pemerintah dalam memperketat pengawasan melalui integrasi sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko guna menekan potensi pelanggaran regulasi Penanaman Modal Asing (PMA).

Pada akhirnya, IFBEC menegaskan tidak menutup diri dari investasi asing, melainkan mendorong iklim usaha yang sehat, adil, dan taat hukum. Mengingat sektor F&B diproyeksikan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun 2026, kolaborasi multisektor ini diharapkan mampu mencetak tenaga kerja lokal yang kompeten untuk menjaga kedaulatan pariwisata Pulau Dewata.