Sektor kesehatan di Jalur Gaza kini berada di ambang kolaps total menyusul hancurnya gudang penyimpanan obat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah, akibat serangan udara. Insiden ini memicu kelangkaan obat-obatan esensial secara drastis dan memperburuk kondisi ribuan pasien yang tengah bertahan hidup di tengah blokade berkepanjangan.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Bursh, mengungkapkan bahwa situasi logistik medis saat ini berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 53 persen pasokan obat-obatan penting dan sekitar 59 persen bahan medis habis tak tersisa. Tidak hanya itu, hampir seperempat peralatan laboratorium rumah sakit lumpuh total akibat ketiadaan suku cadang.

Kehancuran fasilitas penyimpanan obat bagi pasien gagal ginjal di RS Syuhada Al-Aqsa menambah panjang daftar kerusakan infrastruktur medis. Sebelumnya, serangan serupa juga telah meratakan dua gudang farmasi utama serta merusak parah dua fasilitas logistik kesehatan lainnya di wilayah tersebut.

Kondisi ini kian diperparah oleh krisis lingkungan dan sanitasi buruk di kamp-kamp pengungsian. Saluran air bersih yang tercemar limbah memicu penyebaran wabah penyakit dengan cepat. Laporan epidemiologi setempat mencatat bahwa sekitar 28 persen kasus penyakit yang diderita pengungsi berkaitan langsung dengan konsumsi air yang tidak higienis.

Hambatan masuknya bantuan kemanusiaan seperti bahan bakar, oli generator, dan peralatan medis dasar membuat operasional rumah sakit terus merosot. Dampak fatal dari blokade ini juga dirasakan oleh lebih dari 1.500 pasien dengan rujukan medis khusus yang dilaporkan meninggal dunia karena tidak mendapatkan izin keluar dari Gaza untuk menjalani pengobatan secara layak.

Menanggapi kehancuran ini, pihak Kementerian Kesehatan mendesak komunitas internasional untuk segera mengimplementasikan hukum humaniter guna melindungi fasilitas kesehatan yang tersisa. Sejak ketegangan memuncak pada Oktober 2023, konflik ini dilaporkan telah merenggut puluhan ribu nyawa serta melukai ratusan ribu warga sipil lainnya, memperdalam tragedi kemanusiaan di tanah Palestina.