Pemerintah Provinsi Bali menegaskan ambisi besarnya untuk memposisikan Pulau Dewata sebagai pusat kolaborasi ekonomi global yang berpijak pada nilai-nilai Dharma. Komitmen ini digaungkan dalam gelaran Global Hindu Business Conference (GHBC) 2026, sebuah ajang strategis yang mempertemukan jejaring pebisnis Hindu dari sepuluh negara.
Dalam jamuan makan malam di Jaya Sabha, Denpasar, Pemerintah Provinsi Bali menyambut hangat delegasi mancanegara, termasuk perwakilan dari India, Australia, hingga Uni Emirat Arab. Acara yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) ini menjadi wadah pertukaran ide untuk memperkuat daya saing ekonomi berbasis budaya dan kelestarian lingkungan.
Gubernur Bali memaparkan visi jangka panjang 'Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun' (2025–2125) yang menitikberatkan pada sinergi antara tradisi dan modernitas. Ia menegaskan bahwa desa adat tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga ekosistem ekonomi dan alam, sehingga pariwisata serta pembangunan infrastruktur tetap berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal.
Konferensi bertajuk ‘Towards Dharmanomics: Designing the Future’ ini merupakan kolaborasi lintas institusi, termasuk UNHI, UHN I Gusti Bagus Sugriwa, dan Global Hindu Entrepreneur Network (GHEN). Sebagai bentuk apresiasi, ajang ini juga memberikan 'Prajaniti Dharmaraja Award 2026' kepada sejumlah tokoh nasional dan internasional yang dinilai berkontribusi besar dalam pengembangan ekonomi dan kemasyarakatan.