Kisah transfer winger muda potensial asal Israel, Anan Khalaili, menyisakan cerita menarik pada bursa transfer musim panas ini. Pemain berusia 20 tahun tersebut hampir saja berseragam Inter Milan sebelum akhirnya regulasi medis yang sangat ketat di Italia membatalkan kesepakatan tersebut secara mendadak. Khalaili kini resmi melanjutkan kariernya di Premier League bersama Crystal Palace setelah ditransfer dari klub Belgia, Union Saint-Gilloise.

Pembatalan transfer ke Giuseppe Meazza bukan disebabkan oleh ketidaksepakatan nilai kontrak atau nilai transfer antar-klub. Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) tidak mengeluarkan sertifikat kelayakan medis untuk Khalaili setelah hasil tes beban jantung (cardiac stress test) menunjukkan adanya indikasi masalah. Regulasi kesehatan olahraga di Italia terkenal sebagai salah satu yang paling ketat di dunia bagi atlet profesional.

Aturan ketat di Negeri Piza ini sebelumnya juga dialami oleh sejumlah pemain bintang seperti Christian Eriksen dan Edoardo Bove, yang dilarang merumput di Serie A karena menggunakan alat pacu jantung implantable (ICD). Keduanya pun terpaksa hengkang dan melanjutkan karier sepak bola mereka di kompetisi Inggris yang memiliki pendekatan medis berbeda.

Agen sang pemain, Boaz Goren, mengungkapkan momen unik ketika ia harus menyampaikan kabar buruk tersebut kepada Khalaili di hotel. Alih-alih larut dalam kesedihan, keduanya justru menertawakan situasi tersebut dan langsung fokus pada opsi berikutnya. Goren menyebut tim medis di Inggris hanya membutuhkan waktu singkat untuk memberi lampu hijau setelah meninjau kondisi fisik sang pemain.

Inter Milan sebenarnya menjadi prioritas utama bagi Khalaili karena kesesuaian taktik 3-5-2 yang diusung oleh klub tersebut. Namun, dengan kegagalan tersebut, Crystal Palace yang berada di urutan kedua dalam daftar analisis internal mereka kini menjadi pelabuhan baru bagi talenta muda ini untuk unjuk gigi di kancah Premier League.