JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan capaian kinerja keuangan yang impresif sepanjang semester pertama tahun 2026. Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan serta dinamika geopolitik global, bank pelat merah ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun yang ditopang oleh ekspansi kredit yang sehat dan perbaikan kualitas aset.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari penajaman fokus bisnis pada sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan stabil. Langkah strategis ini selaras dengan arah transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Danantara Indonesia, yang mengedepankan tata kelola profesional dan penciptaan nilai jangka panjang.

Transformasi digital turut menjadi motor penggerak utama pertumbuhan BNI. Hingga Juni 2026, platform retail wondr by BNI mencatat lonjakan volume transaksi hingga 110 persen secara tahunan (yoy) dengan total 15,1 juta pengguna. Sementara di segmen korporasi, platform BNIdirect mencatat nilai transaksi fantastis mencapai Rp6.039 triliun. Ekspansi digital ini diperkuat oleh program penataan jaringan bertajuk BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) di seluruh kantor cabang demi memaksimalkan potensi ekonomi lokal.

Dari sisi intermediasi, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, memaparkan bahwa penyaluran kredit tumbuh signifikan sebesar 24,4 persen (yoy) menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan kredit yang ekspansif namun pruden ini didukung oleh struktur pendanaan yang kokoh, di mana dana murah (CASA) tumbuh 11,2 persen (yoy) untuk mempertahankan rasio CASA di level 65,4 persen. Hal ini berdampak positif pada penurunan biaya dana (cost of fund) menjadi 2,56 persen.

Kinerja intermediasi yang solid ini mendongkrak Pendapatan Bunga Bersih (NII) BNI tumbuh 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Pada saat yang sama, Pendapatan Berbasis Komisi (fee-based income) juga merangkak naik 14,2 persen ke angka Rp9 triliun. Alhasil, Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) menyentuh angka Rp18,5 triliun, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk kinerja paruh pertama tahun berjalan.

Sementara itu, manajemen risiko yang disiplin berhasil menjaga kualitas aset perseroan tetap prima. Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, mengungkapkan bahwa rasio kredit bermasalah (loan at risk/LAR) BNI menyusut dari 11 persen menjadi 8,1 persen, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terjaga di level aman 1,9 persen. Kebijakan pencadangan yang konservatif terus diterapkan untuk memastikan ketahanan neraca keuangan dalam menghadapi fluktuasi ekonomi mendatang.