Prosesi pemakaman Khamenei menjadi titik balik ketegangan di Timur Tengah, di mana suasana duka justru terselimuti oleh gelombang unjuk rasa massal anti-Amerika Serikat dan Israel. Bendera merah yang melambangkan semangat pembalasan tampak berkibar di berbagai kota di Iran dan Irak, mencerminkan kemarahan publik atas serangan militer terbaru yang menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 78 lainnya.
Ketegangan ini meletus setelah AS kembali melancarkan serangan besar-besaran pada Rabu (8/7) malam, yang dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan sekutu AS di Kuwait dan Bahrain, serta serangan rudal dan drone ke arah Yordania dan Qatar. Pentagon melalui Komando Pusat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menghantam 90 sasaran, termasuk infrastruktur militer di dekat pembangkit nuklir Bushehr, dengan dalih mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa langkah militer tersebut merupakan respons atas ancaman terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Di sisi lain, situasi semakin rumit dengan adanya laporan intelijen yang menyebutkan potensi rencana Iran untuk menargetkan Presiden Trump, sebuah klaim yang sempat memicu spekulasi keamanan tinggi setelah sang presiden kembali dari KTT NATO.
Meskipun negosiasi sempat membawa harapan bagi stabilitas kawasan, retorika keras dari kedua belah pihak kini membuat masa depan perjanjian gencatan senjata berada di ujung tanduk. Para ahli menilai bahwa Iran tetap menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar utama, sementara Washington kini menghadapi dilema strategis antara melanjutkan tekanan militer atau kembali menempuh jalur diplomatik guna menghindari eskalasi energi global.