Kekalahan menyakitkan Mesir atas Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 meninggalkan luka mendalam bagi tim berjuluk The Pharaohs tersebut. Sempat unggul 2-0 hingga menit ke-79, Mesir harus menelan pil pahit setelah Argentina membalikkan keadaan menjadi 3-2 melalui gol Enzo Fernández di masa injury time, yang sekaligus menghentikan langkah mereka di turnamen ini.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, meluapkan kemarahannya dalam sesi wawancara pasca-pertandingan. Ia secara terbuka menuding adanya keberpihakan dari perangkat pertandingan terhadap juara dunia bertahan tersebut. Hassan mengklaim bahwa terdapat upaya sistematis untuk memastikan Argentina, khususnya Lionel Messi, tetap melaju jauh di dalam turnamen demi kepentingan narasi sepak bola global.
Kontroversi memuncak saat gol kedua Mesir yang dicetak Mostafa Zico dianulir oleh Video Assistant Referee (VAR) karena pelanggaran ringan yang dilakukan Marwan Attia. Selain itu, kubu Mesir merasa dirugikan oleh keputusan wasit François Letexier yang mengabaikan klaim penalti Mohamed Salah di kotak penalti Argentina, sesaat sebelum gol kemenangan tim Tango tercipta.
Tudingan ini memicu perdebatan mengenai konsistensi penerapan standar perwasitan FIFA di Piala Dunia kali ini. Meskipun kepala perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, telah menginstruksikan agar kontak fisik yang wajar tetap dibiarkan untuk menjaga tempo permainan, keputusan VAR yang membatalkan gol Mesir dinilai banyak pihak sebagai tindakan yang mencederai prinsip tersebut.
Meski harus pulang lebih awal, penampilan Mesir sepanjang turnamen ini menuai apresiasi luas karena berhasil bermain setara dengan tim-tim raksasa dunia. Semangat Mekameleen yang diusung timnas Mesir kini membekas di hati para penggemar, memberikan kebanggaan nasional meski di tengah kemarahan dan rasa tidak percaya atas kepemimpinan di atas lapangan hijau.