Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah menjajaki terobosan baru dalam pengelolaan limbah melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem robotik. Langkah ini diambil sebagai solusi progresif untuk menekan volume sampah yang selama ini membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan mengubahnya menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Ia menilai bahwa peralihan dari sistem pengelolaan sampah konvensional menuju sistem berbasis teknologi modern sangat krusial untuk mengatasi tantangan lingkungan yang semakin kompleks di wilayah tersebut.

Sistem ini dirancang dengan kemampuan pemilahan otomatis yang mampu membedakan karakteristik material, mulai dari sampah organik, plastik, hingga kaca. Teknologi robotik yang diterapkan diklaim mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan, di mana seluruh proses pengolahan hingga pengeringan hanya membutuhkan waktu singkat dengan jumlah tenaga kerja yang minimal.

Lebih dari sekadar memilah, teknologi ini memungkinkan sampah organik dikonversi menjadi pupuk, sementara residu lainnya diolah menjadi bahan bakar alternatif (refuse derived fuel). Produk hasil olahan ini bahkan diproyeksikan dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara untuk mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Sebagai tahap awal, sistem pengolahan sampah modern ini akan difokuskan untuk melayani empat kecamatan dengan volume limbah tertinggi, yakni Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Sambaliung, dan Teluk Bayur. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau saat ini tengah menyusun integrasi sistem pengangkutan sampah, dengan target perluasan layanan ke seluruh kecamatan di Kabupaten Berau di masa depan.