Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor pangan di Kabupaten Magelang memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama pada komoditas beras organik dan olahan sayuran. Namun, tantangan klasik seperti keterbatasan kapasitas, inkonsistensi kualitas produk, dan sistem pemasaran tradisional masih membayangi pelaku usaha lokal. Untuk itu, adopsi teknologi sering kali digadang-gadang sebagai jalan pintas utama guna mendongkrak produktivitas mereka.
Meski demikian, teknologi produksi seperti mesin modern tidak bisa berdiri sendiri sebagai solusi tunggal. Upaya mendongkrak kelas UMKM membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, yang mencakup tata kelola mutu (Quality Control) dan strategi pemasaran yang terarah. Tanpa adanya standardisasi proses, lonjakan volume produksi justru berisiko menurunkan konsistensi kualitas produk akhir.
Realitas ini tercermin dalam program pendampingan Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Program yang dijalankan oleh Universitas Tidar (Untidar) berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini mendampingi Koperasi Gupon Sekarlangit dan PT Sekarlangit Agro Indoperkasa. Kedua mitra tersebut bergerak dalam pengolahan hasil pertanian lokal seperti beras organik dan tepung sayur.
Pada awal program, intervensi teknologi berupa mesin penyortir warna (color sorter) diterapkan untuk membantu Koperasi Gupon Sekarlangit menggantikan sistem sortir manual yang rawan menghasilkan kualitas beras yang tidak seragam. Sementara di PT Sekarlangit Agro Indoperkasa, mesin pengisi dan penyegel otomatis (filling and sealing) diperkenalkan untuk menstandardisasi ukuran kemasan bubur fortifikasi beras organik.
Kehadiran mesin-mesin tersebut terbukti meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi secara signifikan. Kendati demikian, tantangan baru muncul berupa pentingnya menjaga konsistensi mutu produk. Tim pendamping merespons hal ini dengan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), lembar pemeriksaan mutu (check sheet), serta membentuk fungsi pengawasan mutu internal demi menjamin setiap batch produk memenuhi standar kelayakan.
Selain pembenahan dari sisi produksi dan manajemen mutu, perluasan pasar juga menjadi fokus utama. Pendampingan tidak sekadar mengarahkan pelaku usaha untuk membuat akun media sosial, melainkan melatih mereka mengoptimalkan pemasaran digital berbasis Search Engine Optimization (SEO) guna memperkuat identitas merek di ranah daring.
Sinergi antara teknologi produksi, manajemen mutu yang disiplin, dan strategi pemasaran digital menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan UMKM pangan. Program kemitraan yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini membuktikan bahwa pemberdayaan yang efektif harus melibatkan pelaku usaha secara aktif dari hulu hingga hilir demi mewujudkan kemandirian ekonomi daerah.