Tim Ekspedisi Patriot IPB University berkolaborasi dengan masyarakat Kampung Tambat di kawasan Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, untuk membangun ekosistem bisnis sagu terpadu. Langkah strategis ini dirumuskan melalui Focus Group Discussion (FGD) guna memetakan potensi wilayah sekaligus mencari solusi atas kendala produktivitas yang dihadapi warga setempat.

Kepala Kampung Tambat, Samuel Haremba, menyambut baik kehadiran tim akademisi tersebut. Ia menaruh harapan besar bahwa pendampingan ini dapat membantu masyarakat memaksimalkan pengelolaan potensi desa, khususnya komoditas sagu yang selama ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga Papua.

Meski warga memiliki keterampilan turun-temurun dalam mengolah sagu, proses produksi di Kampung Tambat belum berjalan konsisten. Saat ini hanya sekitar tujuh warga yang aktif memproduksi sagu basah menggunakan kombinasi metode manual dan mesin parut. Keterbatasan pasokan air bersih saat musim kemarau dan ketidakpastian serapan pasar menyebabkan aktivitas produksi terkadang hanya berjalan dua kali dalam sebulan.

Sagu basah hasil olahan warga biasanya dijual ke Pasar Wamanggu dan Pasar Ampera dengan harga berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per karung. Warga sebenarnya telah mencoba melakukan diversifikasi dengan membuat produk turunan seperti sagu keju, sagu gulung, hingga pentol bakso. Namun, minimnya peralatan modern dan terbatasnya akses pemasaran membuat usaha ini sulit berkembang.

Selain fokus pada produk pangan, ekosistem bisnis terpadu ini juga dirancang untuk memanfaatkan limbah ampas sagu yang melimpah sebagai media budidaya jamur dan bahan pakan ternak. Integrasi ini diharapkan dapat menyokong sektor ekonomi lain yang mulai dirintis warga, seperti pertanian hortikultura dan budidaya ikan lele yang selama ini kerap terkendala biaya pakan serta pasokan air.

Melalui pemetaan kebutuhan riil ini, warga Kampung Tambat berharap adanya dukungan teknologi tepat guna, penyediaan pompa air, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas. Dengan demikian, sagu tidak hanya sekadar menjadi bahan pangan subsisten, tetapi bertransformasi menjadi komoditas bernilai tambah tinggi yang mampu menyejahterakan masyarakat Papua Selatan.