Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar forum strategis bertajuk UTM Research Summit 2026 pada Jumat, 10 Juli 2026 di Aula Syaikhona Kholil, Bangkalan. Acara ini menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, sebagai pembicara utama untuk membedah peta jalan riset perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam arahannya, Prof. Arif menekankan pentingnya bagi perguruan tinggi untuk segera bertransformasi menjadi innovation university. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat ekosistem penelitian yang mencakup modernisasi laboratorium, peningkatan kualitas peneliti, serta penyusunan peta jalan riset yang selaras dengan kebutuhan nasional demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Lebih lanjut, Prof. Arif menegaskan bahwa luaran penelitian tidak boleh sekadar berhenti pada tahap publikasi ilmiah. Ia menuntut adanya keberanian untuk melakukan hilirisasi hasil riset melalui pengembangan inkubator bisnis, unit produksi percontohan (pilot plant), serta kolaborasi aktif dengan sektor industri agar produk inovasi memiliki nilai tambah ekonomis dan manfaat sosial yang nyata.

Selain itu, Kepala BRIN menggarisbawahi pentingnya membekali mahasiswa dengan green skills. Kompetensi di bidang energi terbarukan, pengelolaan sumber daya air, hingga konservasi biodiversitas dinilai krusial agar lulusan perguruan tinggi mampu menjawab tantangan global yang semakin kompleks terkait isu lingkungan.

Rektor UTM, Prof. Safi, menyambut positif kolaborasi strategis ini. Selain memberikan wawasan bagi para dosen, momentum tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UTM dan BRIN. Meski sempat menyinggung tantangan efisiensi anggaran riset yang sedang dihadapi perguruan tinggi, Prof. Safi optimistis kemitraan ini akan membuka akses yang lebih luas bagi sivitas akademika UTM dalam berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan nasional.