Mengukuhkan perannya di kancah internasional, Provinsi Bali kini diproyeksikan menjadi pusat (hub) ekspor utama untuk berbagai produk unggulan dari seluruh pelosok Nusantara. Gagasan strategis ini mengemuka dalam acara Pelantikan Dewan Pengurus Daerah Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (DPD GPEI) Bali periode 2026–2031 yang berlangsung di Kuta, Badung.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa secara faktual Pulau Dewata telah lama menjembatani komoditas daerah lain menuju pasar global. Namun, potensi besar ini dinilai belum terkelola secara terstruktur. Dengan modal kuat berupa citra positif (branding) dan standar mutu Bali yang telah diakui dunia, integrasi tata kelola ekspor diyakini akan melipatgandakan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Sebagai langkah konkret untuk mendukung ekosistem logistik dan perdagangan ini, Pemerintah Provinsi Bali tengah mempercepat pembangunan kawasan Pusat Kebudayaan Bali. Proyek strategis ini dijadwalkan memasuki proses tender pada Desember 2026, dengan target penyelesaian zona inti pada 2027. Di dalam kawasan tersebut, fasilitas komersial bertaraf internasional bertajuk 'Bali Expo' akan disiapkan sebagai pusat pameran perdagangan berskala besar.

Lebih lanjut, Koster mengimbau para pelaku ekspor untuk mulai meminimalkan pengiriman bahan mentah dan beralih ke produk olahan demi mendongkrak nilai tambah ekonomi lokal. Upaya ini mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri. Kemendag optimis kontribusi Bali akan membantu mengejar target ekspor nasional tahun ini yang dibidik mencapai 315 miliar dolar AS, khususnya melalui komoditas hortikultura populer seperti manggis dan salak.

Senada dengan visi pemerintah, Ketua DPD GPEI Bali yang baru dilantik, A.A. Ngurah Aditya Pradnyana Sunu, menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan sektor perdagangan dengan industri pariwisata (trade tourism). Sebagai bentuk aksi nyata dari komitmen tersebut, acara pelantikan ditutup dengan pelepasan ekspor perdana 3,5 ton buah salak gula pasir senilai 13.000 dolar AS yang langsung dikirim menuju pasar Tiongkok.