PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat posisi fundamentalnya di industri perbankan nasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui transformasi bisnis yang berfokus pada efisiensi struktur pendanaan, sejalan dengan visi penguatan nilai yang dicanangkan oleh Danantara bagi korporasi milik negara.
Hingga triwulan pertama tahun 2026, BRI berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang solid dengan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.555,1 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 9,4% secara tahunan (year-on-year). Keberhasilan ini didukung oleh dominasi dana murah (CASA) yang mencapai Rp1.058,6 triliun, atau 68,07% dari total DPK perseroan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa dominasi dana murah tersebut tidak terlepas dari masifnya adopsi kanal digital seperti BRImo, QLola, serta sistem pembayaran QRIS. Peningkatan volume transaksi digital tersebut berkontribusi langsung pada efisiensi biaya dana (cost of fund) perseroan, yang tercatat turun secara signifikan sebesar 65 basis poin menjadi 2,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penguatan struktur modal ini turut mendorong pertumbuhan aset BRI Group sebesar 7,2% hingga menyentuh angka Rp2.250 triliun. Selain itu, penyaluran kredit tumbuh impresif sebesar 13,7% menjadi Rp1.562 triliun, yang kemudian menghasilkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa efisiensi pendanaan memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, Kepala Badan Pelaksana BUMN sekaligus COO BPI Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menekankan pentingnya transformasi berkelanjutan bagi perusahaan pelat merah. Menurut Dony, kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan setiap BUMN tidak hanya mengejar skala bisnis, tetapi juga memperketat aspek tata kelola dan manajemen risiko. Fondasi yang sehat diyakini akan meningkatkan daya saing perusahaan negara dalam menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.