Upaya peningkatan daya saing sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus digalakkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kali ini, Tim Pengabdian Masyarakat (TPM) dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Universitas Andalas (Unand) terjun langsung memberikan pendampingan teknologi guna memodernisasi proses produksi kerupuk ubi kayu di wilayah tersebut.

Ketua TPM Fateta Unand, Mislaeni, mengungkapkan bahwa selama ini para perajin lokal masih sangat bergantung pada metode konvensional, yakni menjemur kerupuk di lahan terbuka yang terpapar langsung oleh cuaca. Ketergantungan terhadap sinar matahari ini tidak hanya membuat proses produksi menjadi tidak menentu saat musim hujan, namun juga berisiko terhadap kebersihan produk.

Sebagai solusi, pihak akademisi merancang sebuah inovasi berupa 'dome' atau rumah pengeringan berukuran 1x2 meter. Alat ini dirancang dengan material rangka hollow galvanis yang tahan karat dan memiliki sistem bongkar-pasang. Tidak hanya sebagai pelindung, rumah pengering ini dilengkapi dengan kipas sirkulasi dan exhaust fan otomatis yang berfungsi mengatur suhu serta kelembapan udara secara optimal.

Dengan sistem rak yang mampu menampung hingga 20 nampan sekali proses, penggunaan teknologi ini diharapkan dapat mempercepat durasi produksi serta menghasilkan kerupuk dengan standar higienitas yang jauh lebih baik. Selain intervensi teknologi, tim dosen juga memberikan pendampingan komprehensif mulai dari pengembangan variasi rasa, penyempurnaan desain label kemasan, hingga asistensi pengurusan legalitas usaha.

Program yang melibatkan sekitar 50 mahasiswa selama enam bulan ini mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah setempat. Wali Nagari Koto Tangah, Amrizal Gunawan, menilai bahwa langkah kolaboratif ini menjadi stimulus penting agar UMKM kerupuk di Agam dapat naik kelas dan mampu menjangkau pangsa pasar yang lebih luas di masa depan.