Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik dunia, lanskap persaingan global kini mengalami transformasi fundamental. Indonesia, sebagai bagian dari ekosistem global, tidak luput dari dampak langsung dinamika ini yang dipicu oleh benturan kepentingan ekonomi antarnegara.
Dalam acara Hukumonline Subscribers Meet Up bertajuk "Geopolitical Tensions & Geoeconomic Uncertainty", Partner di firma hukum Dentons HPRP, Fabian Buddy Pascoal, menyoroti pergeseran aktor dalam persaingan global. Jika dulu kompetisi didominasi oleh rivalitas antarnegara atau antarbangsa, kini muncul tren baru di mana manusia harus menghadapi tantangan dari inovasi teknologi yang diciptakannya sendiri.
Fabian memberikan ilustrasi nyata terkait transisi energi global yang kini memanfaatkan sumber daya alam secara lebih kompleks. Penggunaan kelapa sawit yang kini diolah menjadi biodiesel sebagai sumber energi terbarukan menunjukkan bagaimana mesin-mesin industri canggih kini bersaing dengan kebutuhan manusia dalam memperebutkan alokasi sumber daya alam yang terbatas.
Di sisi lain, kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) dianggap sebagai faktor pengubah permainan (game changer) yang membawa paradoks tersendiri. Meski menawarkan efisiensi tinggi, AI juga menyimpan risiko sistemik yang cukup besar bagi tatanan sosial dan ekonomi.
Menurut Fabian, teknologi berkembang secara bertahap, mulai dari sekadar penyedia informasi searah hingga mencapai tingkat transformasi yang mutakhir. Kemampuan AI untuk melakukan transformasi ini yang menuntut kewaspadaan manusia agar tetap mampu mengendalikan teknologi tersebut, alih-alih menjadi pihak yang tersisih dalam persaingan global yang makin ketat.