Penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) generatif kini telah merambah jauh ke dalam jantung industri hiburan global. Tidak lagi sekadar alat eksperimental untuk menghasilkan teks atau gambar sederhana, AI kini diintegrasikan secara masif dalam proses praproduksi dan pascaproduksi film, termasuk pembuatan storyboard, penyuntingan video, ilustrasi, hingga pengerjaan efek visual (VFX).

Kendati menawarkan efisiensi tinggi, penetrasi teknologi ini memicu polemik besar di kalangan pelaku industri kreatif. Isu mengenai perlindungan hak cipta dan masa depan profesi seniman menjadi sorotan utama. Sejumlah raksasa teknologi seperti OpenAI, Stability AI, Midjourney, dan Suno saat ini tengah menghadapi tuntutan hukum dari para penulis, ilustrator, serta label musik yang menuding platform tersebut melatih model AI mereka menggunakan karya berhak cipta tanpa izin maupun kompensasi finansial yang layak.

Di tengah badai sengketa hukum tersebut, beberapa studio film papan atas justru mulai merangkul teknologi ini secara terbuka. Langkah konkret ditunjukkan oleh Lionsgate, studio yang memproduksi waralaba populer John Wick dan The Hunger Games. Pada akhir 2024, mereka menjalin kemitraan strategis dengan Runway untuk mengembangkan model AI khusus yang dilatih menggunakan katalog film milik studio. Pihak Lionsgate menegaskan bahwa pemanfaatan AI ini bertujuan sebagai alat bantu akselerasi kerja para sineas, bukan untuk menggantikan peran manusia.

Pola adopsi serupa juga dijajaki oleh jaringan televisi AMC Networks. Di sisi lain, sutradara legendaris peraih Oscar, James Cameron, turut mempertegas keterlibatannya dalam tren ini dengan bergabung sebagai dewan direksi Stability AI. Langkah Cameron merefleksikan pandangan bahwa alih-alih menghindari AI, para pembuat film perlu memahami potensi teknologi tersebut untuk mempercepat proses visualisasi skala besar tanpa harus mengorbankan nilai artistik karya manusia.